TESIS
PERFORMANS PRODUKSI DAN REPRODUKSI SAPI BALI DIKAKI GUNUNG RINJANI DI PULAU LOMBOK
OLEH :
EKA PURWANTHO
PASCASARJANA
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012
1.1 Latar Belakang
Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau Tahun 2014 (PSDSK-2014) merupakan salah satu dari 21 program utama Departemen Pertanian terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumberdaya domestik (Direktorat Jenderal Peternakan, 2010). Salah satu sapi asli yang dapat dikembangkan dalam mendukung PSDSK 2014 adalah sapi Bali. Sumberdaya genetik ternak lokal saat inimenghadapi tantangan ganda. Pada satu sisi, permintaan produk peternakan meningkat, disisi lain sumberdaya genetik ternak semakin terancam keberadaannya. Sejak 15 tahun lampau hingga kini, 300 dari 6000 breed yang diidentifikasi oleh FAO (Food Agriculture Organization) mengalami kepunahan. Banyak breed lokal yang penting untuk ketahanan pangan tidak diperhatikan dan ditingkatkan pemanfaatannya secara berkesinambungan sehingga berada dalam bahaya kepunahan atau tersingkirkan oleh perkawinan silang (crossbreeding) akibat keinginan untuk mempercepat produktivitasnya.
Sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia dan merupakan salah satu plasma nutfah ternak yang ada di Indonesia. Sapi Bali merupakan ternak sapi yang mempunyai konstribusi yang cukup besar dalam pemenuhan daging di Indonesia. Menurut data statistik peternakan Indonesia sapi Bali mempunyai konstribusi sebanyak 26,92 persen dibanding bangsa sapi lainnya. Namun demikian kinerja sapi Bali dalam menghasilkan daging belum maksimal sehingga diperlukan berbagai upaya untuk mengoptimalkannya. Usaha-usaha yang sudah dan tengah dilakukan di berbagai daerah antara lain dengan menerapkan berbagai strategi pemberian pakan, manajemen pemeliharaan dan peningkatan genetik melalui seleksi (Supriyantono, 2006).
Provinsi Nusa Tenggara Barat, memiliki populasi sapi Bali sekitar 492.000yang tersebar di 5 Kabupaten yang memiliki populasi di atas 35.000 ekordengan pertumbuhan populasi sebesar 4,4 sampai dengan 5,9 persen, yakni di LombokBarat, Bima, Lombok Timur, Dompu, Lombok Tengah dan SumbawaBarat. Melihat potensi yang ada, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki peran aktif dalam peningkatan kebutuhan daging sapi. Secara nasional NTB telah diakui sebagai daerah penghasil ternak dengan jumlah populasi sapi data tahun 2010, populasi sapi sebanyak 592.875 ekor. Hasil sensus ternak sapi 2011 populasi sapi potong di NTB meningkat menjadi 780.901 ekor (Anonimus, 2011). Pada populasi yang besar ini selain untuk konsumsi sendiri yang mencapai 35.000 ekor per tahun, selebihnya untuk menyuplai kebutuhan daerah-daerah lain di Indonesia diantaranya Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Maluku dan Papua. Terlepas dari itu pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) mencanangkan program unggulan yaitu NTB “Bumi Sejuta Sapi” (BSS), program ini merupakan program percepatan pembangunan sektor peternakan yang bertujuan meningkatkan populasi ternak (Sapi Bali), meningkatkan kesejahteraan peternak dan meningkatkan kelestarian lingkungan (Anonimus, 2010).
Kawasan hutan kaki Gunung Rinjani seluas 125.740 Ha. terdiri atas beberapa fungsi kawasan, termasuk di dalamnya sekitar 41.330 Ha. kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) (Anonimus, 2000, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), 1997). Keberadaan dan peran sumberdaya hutan sangat erat dengan kehidupan umat manusia, baik langsung maupun tidak langsung. Nilsson (1996) dalam Suhendang (2002). Adapun fungsi hutan adalah memberikan perlindungan terhadap siklus air dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pengendalian erosi (watershedprotection and erosion control). Selain itu masyarakat di sekitar TNGR memanfaatkan hutan sebagai sumber pakan ternak. Melimpahnya ketersediaan pakan ternak sapi terlihat dari tingginya populasi ternak sapi di Pulau Lombok yang berpusat di sekitar kaki Gunung Rinjani.
Ternak yang dikembangkan di Nusa Tenggara Barat khususnya di Pulau Lombok dan di sekitar kaki Gunung Rinjani adalah jenis sapi Bali. Sapi Bali merupakan sapi tipe dwi guna yaitu sebagai ternak potong dan ternak kerja. Sapi Bali merupakan bangsa ternak lokal Indonesia yang mempunyai andil besar dalam penyediaan daging untuk konsumsi masyarakat Indonesia. Sebagai aset Nasional, sapi Bali sebagai plasma nutfah perlu dipertahankan keberadaannya dan dimanfaatkan secara lestari, karena sapi Bali memiliki beberapa keunggulan spesifik; diantaranya mempunyai sifat reproduksi dan kualitas karkas yang sangat baik, tahan terhadap kondisi lingkungan tropis dan pakan jelek, serta mempunyai fertilitas yang tinggi.
Beberapa upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sapi di Pulau Lombok adalah dengan pengembangan wilayah yang berbasis pada potensi sumberdaya lokal, diharapkan akan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat dalam mengelola potensi yang tersedia, sehingga dalam proses produktivitas akan terjadi pemakaian sumberdaya yang terbarukan (Anonimus, 2008). Lebih lanjut dinyatakan bahwa upaya penerapan integrasi hutan-ternak (memadukan potensi wilayah) dengan memadukan antara hutan dan ternak mampu memberikan banyak keuntungan bagi peternak dan lingkungannya.
Untuk menunjang implementasi pembangunan dan pengembangan peternakan khususnya sapi dalam upaya peningkatan produktivitas ternak sapi Bali secara maksimal diperlukan data dan informasi yang obyektif, aktual dan memenuhi standar informasi. Untuk mengetahui potensi produktivitas sapi Bali di sekitar kaki Gunung Rinjani maka perlu dilakukan evaluasi terhadap sifat-sifat produksi dan reproduksi dari sapi-sapi Bali yang berada di sekitar kaki Gunung Rinjani. Pengamatan ini diperlukan untuk mendapatkan data tentang tingkat produksi dan reproduksi sapi Bali melalui integrasi hutan-ternak di kaki Gunung Rinjani secara cermat dan mendalam.
Dari uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian tentang performans produksi dan reproduksi sapi Bali pola pemeliharaan integrasi hutan-ternak di kaki Gunung Rinjani di Pulau Lombok.
1.2 Rumusan Masalah
Pengembangan peternak ditujukan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas individu ternak. Untuk itu kebutuhan akan mengenali potensi wilayah yang baik sangat penting dalam menentukan strategi dalam pengembangan dan peningkatan produktivitas ternak sapi.Dalam kaitan dengan ini mengetahui performans produksi dan reproduksi sapi Bali pola pemeliharaan Integrasi hutan-ternak merupakan salahsatu alternatif yang bisa ditempuh. Pola pemeliharaan integrasi hutan-ternak di kaki Gunung Rinjani telah lama dilakukan dan tingkat keberhasilan peternak sangat tinggi, didukung juga oleh program pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat “Bumi Sejuta Sapi” (BSS).
Sapi Bali murni sangat berperan dalam perkembangan peternakan di Indonesia selama lebih dari satu abad. Karakteristik yang menguntungkan dari sapi Bali adalah tingkat fertilitas yang tinggi, daya tahan dan kapasitasnya yang baik pada lingkungan yang tidak mendukung dan kondisi iklim yang tidak menentu pada daerah-daerah yang kering dan tandus, memiliki kemampuan untuk mempertahankan kualitas sebagai sapi potong yang kecil, telah menjadikan sapi potong yang lebih dipilih di Indonesia.
Pulau Lombok merupakan daerah yang cukup ideal untuk pengembangan agribisnis sapi Bali karena didukung oleh faktor antara lain (1) dukungan sumber daya alam : agro-ekosistem didominasi oleh lahan kering termasuk padang penggembalaan, padang rumput yang mencukupi, potensi hutan kaki Gunung Rinjani yang menyediakan pakan secara terus menerus dan potensi limbah tanaman pangan dedak padi dan jagung dan lain-lain; (2) dukungan sumberdaya ternak : dalam perjalanan waktu hampir satu abad sapi Bali telah eksis di Pulau Lombok. Hal ini menunjukkan bahwa sapi bali telah sesuai atau cocok (adaptif) dengan agro ekosistem di Pulau Lombok; (3) didukung sumberdaya manusia : secara tradisional ternak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem usaha tani; (4) dukungan ketersediaan teknologi : teknologi untuk mendukung perkembangan agribisnis sapi Bali cukup tersedia, baik untuk pembibitan maupun penggemukan; (5) permintaan pasar : pasar untuk sapi sangat baik, permintaan dari dalam maupun luar negeri terus meningkat dan (6)sifat dari pemeliharaan dari pemeliharaan ternak sapi di Indonesia pada umumnya dan NTB pada khususnya adalah peternak rakyat yang bersifat usaha sambilan, dengan kepemilikan rata-rata di Pulau Sumbawa 13 ekor/orang, sedangkan di Pulau Lombok 3 ekor/orang.
Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah seberapa besar tingkat produksi dan reproduksi sapi Bali pola pemeliharaan integrasi hutan-ternak di kaki Gunung Rinjani dan pengaruhnya terhadap produktivitas sapi Bali.
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Kondisi Umum Wilayah
Kondisi umum wilayah Desa Perian, Pringgajurang Utara dan Tetebatu terletak di sekitar taman Nasional Kaki Gunung Rinjani, dengan potensi wilayah yang hampir sama, dengan suhu udara antar 180 – 250 C, kemiringan lahan yang bervariasi, yaitu dari bergelombang, berbukit dan bergunung. Topografi wilayah desa secara keseluruhan berada pada ketinggian 400 - 600 mdpl. Dengan luas wilayah seperti ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Luas wilayah lokasi penelitian.
Desa | Luas Wilayah (Ha) | Luas sawah (Ha) | Luas Kebun (Ha) | Luas Hutan (Ha) |
Perian | 2.369,8 | 348,52 | 21,28 | 2,000 |
Pringgajurang utara | 1.499,65 | 388,00 | 155,65 | 956,00 |
Tetebatu | 2.599 | 298,0 | 301,0 | 2.000,0 |
. Mata pencaharian masyarakat adalah bertani dan beternak, selain itu aktivitas penduduk setempat menghabiskan keseharian mereka di hutan, baik mencari kayu bakar atau mencari rumput untuk pakan ternak.
Ketiga desa tersebut ternak sapi yang dipelihara adalah sapi Bali dengan sistem pemeliharaan ternak sebagai usaha sampingan atau bersifat sebagai tabungan hidup yang sewaktu-waktu dapat diuangkan saat dibutuhkan. Salah satu sistem usaha yang dilakukan adalah dengan sistem “kadasan”dengan cara gaduhan, dengan sistem bagi hasil. Ternak sapi umumnya dipelihara dengan cara dikandangkan disekitar pekarangan rumah kecuali di Desa Perian, responden pada ketiga wilayah penelitian memelihara ternak rata-rata sebanyak 2/orang.
Pada umumnya sistem pemeliharaan ternak sapi Bali di tempat penelitian ini adalah dengan cara dikandangkan terus menerus baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau.Rataan pemberian pakan pada ternak sapi Bali dilokasi ditunjukkan dalam Tabel 3.
Tabel 3. Rataan Pemberian Pakan Sapi Bali di kaki Gunung Rinjani.
Ternak | Konsumsi Hijauan (Kg/hari) | Konsumsi Dedak* (kg/kandang/hari) |
Dewasa ( ≥ 2 Tahun) | 26.4 | 2 |
Muda ( 0,6 – 2 Tahun) | 13.2 | 2 |
Keterangan=(*pemberian dedak diberikan oleh peternak tertentu).
Tabel 3 menunjukkan rataan konsumsi pakan hijauan yang diberikan untuk ternak dewasa dan muda dilokasi penelitian masing-masing sebesar 26.4 kg dan 13.2 kg/hari, dengan pemberian sebanyak dua kali sehari. Pakan tambahan berupa dedak hanya diberikan oleh peternak tertentu dengan jumlah pemberian masing-masing 2 kg/hari.
Hijauan yang diberikan dilokasi penelitian berupa rumput gajah, rumput raja, rumput lapangan, legume, gamal, turi dan limbah pertanian (jerami padi dan jagung).
5.2 Bobot Lahir
Rataan dan simpangan baku bobot lahir sapi Bali di lokasi penelitian seperti disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Bobot Lahir Badan dan Ukuran Tubuh Anak Sapi Bali.
Parameter | Jantan (12 ekor) | Betina (12 ekor) | Rataan Total (24 ekor) | |
Bobot badan (kg) | 16,88+1,25 | 16,77+1,14 | 16,84+1,19 | |
Lingkar dada (cm) | 60,83+1,64 | 61,17+2,12 | 61,00+1,90 | |
Panjang badan (cm) | 50,33+1,83 | 49,50+1,51 | 49,9+1,73 | |
Tabel 5 menunjukkan bahwa bobot lahir sapi Bali pada penelitian ini lebih tinggi dari penelitian Talib, et al (2002) yang melaporkan bobot lahir sapi Bali di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Sulawesi Selatan masing-masing sebesar 11,9+1,8 kg, 12,7+0,7 kg, 16,08+1,6 kg dan 12,3+0,9. Serta Panjaitan, Fordyce and Poppy(2003), yang menyatakan bobot lahir sapi Bali di Sumbawa sebesar 14,2+2,4 kg. Perbedaan tersebut menunjukkan bobot lahir dipengaruhi beberapa faktor diantaranya genetik (bangsa dan tetua) dan lingkungan (jenis kelamin pedet, lama kebuntingan, umur induk dan bobot induk serta pakan).
Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa rataan bobot lahir dan ukuran tubuh anak sapi Bali jantan lebih tinggi dibandingkan dengan anak sapi betina, seperti terlihat pada Tabel 5. Tingginya bobot badan ternak jantan daripada betina menunjukkan potensi genetik pejantan lebih unggul daripada betina. Menurut Yusran, Siregar, Ma’sum dan Wijono (1992) bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara bobot lahir jantan dengan betina, walupun nilai rata-ratanya terlihat bobot lahir jantan cenderung lebih tinggi. Secara umum, potensi genetik jantan terhadap betina dalam hal bobot lahir itu sendiri mempengaruhi perbedaan bobot lahir sapi jantan dengan betina. Hal ini disebabkan adanya hormon androgen yang dimiliki anak jantan akan menyebabkan adanya retensi nitrogen lebih banyak dibandingkan dengan anak betina, sehingga akan mengakibatkan pertumbuhan yang lebih besar. Oleh karena itu, foetus jantan akan memiliki pertumbuhan pralahir lebih besar sehingga memiliki bobot lahir lebih besar pula dibandingkan dengan anak betina (Ihsan, 1990).
Selain karena perbedaan aktivitas hormon kelamin, perbedaan bobot lahir antara jantan dan betina juga disebabkan oleh perbedaan ukuran plasenta antara jantan dan betina. Menurut Toelihere (1997), selama pertumbuhan prenatal, salah satu faktor yang dapat mempengaruhinya adalah ukuran plasenta. Dimana plasenta jantan lebih besar jika dibandingkan dengan betina. Dengan demikian, jika plasenta jantan lebih besar, maka kesempatan foetus jantan untuk memperoleh zat makanan cukup banyak jika dibandingkan dengan yang betina, sehingga memungkinkan pertumbuhan prenatal jantan lebih besar yang pada akhirnya akan lahir dengan bobot badan yang lebih bobot daripada betina.
Faktor musim dan lokasi pemeliharaan ikut berpengaruh terhadap bobot lahir anak, karena erat kaitannya dengan ketersediaan hijauan di lapangan. Pada musim hujan vegetasi yang tumbuh lebih beragam dan produksi hijauan lebih tinggi dibandingkan musim kemarau, sehingga anak yang dilahirkan pada musim hujan bobot lahirnya akan tinggi. Pada sapi Bali musim tidak berpengaruh terhadap bobot lahir. Menurut Muzani, Sasongko dan Panjaitan (2005) melaporkan bahwa bobot lahir pedet jantan yang lahir pada musim kemarau sedikit lebih rendah produksinya dengan bobot anak yang lahir pada musim hujan yaitu 17,8±1,7 kg pada musimkemarau dan pada musim rata-rata bobot lahir pedet jantan lebih tinggi 17,9±1,5 kg pada musim hujan. Bila dibandingkan dengan bobot lahir pedet betina rata-rata berada di bawah bobot lahir pedet jantan yaitu pada musim hujan 15,4+2,5 kg dan musim kemarau 16,0±1,6 kg. Pedet betina yang lahir pada musim kemarau lebih tinggi dibanding yang lahir pada musim hujan diduga karena faktor makanan yang lebih banyak diberikan legume pada musim kemarau sehingga nutrien yang terabsorpsi ke fetus lewat plasenta induknya belum mampu memberikan perbedaan pertumbuhan.
Tabel 5 menunjukkan bahwa rataan ukuran tubuh pada anak jantan yang lebih besar daripada ternak betina. Perbedaan ukuran tubuh ini disebabkan karena pada ternak jantan bentuk tubuhnya lebih besar sehingga akan mempengaruhi ukuran tubuh sapi Bali. Hal ini sesuai pendapat Utomo (2011) yang menyatakan ukuran tubuh pada sapi Katingan sangat dipengaruhi oleh faktor jenis kelamin. Hafez (2008) mengemukakan bahwa pada ternak jantan bekerja hormon androgen/testoteron yang berfungsi untuk meningkatkan sintesis proteinjaringan tubuh dan menurunkan konversi asam amino menjadi urea. Retensi nitrogen akibat aktivitas testoteron menghasilkan kenaikan bobot badan dan pertumbuhan kerangka tulang serta jaringan daging lebih besar dari pada ternak jantan. Pada ternak betina, peningkatan sekresi estrogen menyebabkan penurunan konsentrasi kalsium dan lipida dalam darah sehingga dengan meningkatnya sekresi estrogen akan terjadi penurunan laju pertumbuhan tulang.
Rataan ukuran tubuh sapi Bali pada umur lahir pada lokasi penelitian ini lebih rendah dari yang dilaporkan Sariubang dkk (1998) dan Handiwirawan dkk (1998) yang menyatakan lingkar dada sapi Bali umur lahir masing-masing sebesar 63,91 cm dan 69,80+5,90 cm serta panjang badan sebesar 42,9 cm dan 56,00+5,60 cm. Rendahnya ukuran tubuh sapi Bali daripada penelitian terdahulu diduga disebabkan karena beredanya metode pengukuran dan pengukuran yang dilakukan oleh orang yang berbeda sehingga menyebabkan akurasinya berbeda.
Sumantri (2007) menyatakan selain faktor genetik, ukuran-ukuran tubuh dapat dipengaruhi oleh manajemen pemeliharaan di setiap lokasi penelitian yang berbeda-beda. Perbedaan komposisi tubuh diantara bangsa ternak, terutama disebabkan oleh perbedaan ukuran tubuh dewasa atau perbedaan bobot pada saat dewasa.
Hardjosubroto (1994) menyatakan induk sapi yang melahirkan anak dengan rata-rata bobot lahir yang tinggi, diprediksikan akan dapat menghasilkan keturunan yang memiliki bobot sapih yang tinggi pada masa yang akan datang. Semakin tinggi bobot lahir pedet yang dilahirkan seekor induk sapi menunjukkan semakin baik potensi genetik yang dimiliki oleh induk sapi tersebut karena bobot lahir mempunyai korelasi positif dengan bobot sapih. Walaupun didapat korelasi positif antara bobot lahir dengan laju pertumbuhan, bobot lahir yang terlalu tinggi juga tidak baik karena dapat meningkatkan angka kematian. Pada bobot lahir yang terlalu tinggi, peningkatan angka kematian dapat disebabkan karena kenaikan insiden dystocia.
5.3 Bobot Sapih
Rataan dan simpangan baku bobot sapih sapi Bali hasil penelitian seperti disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan Bobot Badan dan Ukuran Tubuh Anak Sapi Bali Umur Sapih.
Parameter | Jantan (13ekor) | Betina (12ekor) | Rataan Total (25 ekor) |
Bobot badan (kg) | 74,49+3,83 | 68,8+4,4 | 71,8+5.0 |
Lingkar dada (cm) | 96,1+2,2 | 92,7+2,6 | 94,4+2,9 |
Panjang badan (cm) | 89,1+1,0 | 88,42+1,31 | 88,8+1,20 |
Rataan bobot sapih ternak jantan pada penelitian ini lebih tinggi 5,69 kg daripada ternak betina yaitu sebesar 74,49+3,83 kg untuk jantan dan 68,8+4,4 kg untuk betina.Hal ini sesuai pernyataan Lasley (1978) yang menyatakan bahwa pedet jantan mempunyai bobot sapih yang lebih tinggi daripada pedet betina. Bobot sapih jantan yang lebih tinggi disebabkan karena pedet jantan mempunyai kemampuan lebih besar untuk merangsang produksi susu induk. Sukmasari (2001) menyatakan faktor hormonal yaitu kadar hormon luteinzing (LH) juga mempengaruhi bobot pedet jantan yang lebih tinggi. Hormon LH ini merangsang sel-sel leydig untuk mensekresikan hormon testoteron yang menunjang kecepatan pertumbuhan. Hormon testoteron meningkatkan anabolisme protein yaitu meningkatkan penyimpanan nitrogen dan jumlah serta ketebalan serat muskular tubuh. Hormon estrogen yang dihasilkan ternak betina dapat mempercepat proses pengapuran tulang sehingga ternak betina lebih kecil dibandingkan ternak jantan.
Bobot sapih banyak dipengaruhi faktor lingkungan diantaranya manajemen pemeliharaan dan produksi susu induk (Maylinda, 2010). Bobot sapih merupakan sifat yang dipengaruhi komponen genetik induk (maternal genetic effect) yaitu pengaruh gen yang mempengaruhi kondisi lingkungan pada induk yang mempengaruhi performa individu (Bourdon, 1997). Pengaruh maternal genetik antara lain adalah produksi susu dan tingkah laku menyusu induk sehingga bobot sapih juga dapat digunakan sebagai kriteria seleksi induk yang memiliki mothering ability baik.
Tabel 6 menunjukkan rataan bobot sapih di lokasi penelitian ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan bobot sapih sapi Bali di P3 Bali yaitu 82,09+15,78 kg dan pulau Bali 91,77+7,25 kg (Supriyantono, 2006); di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali dan Sulawesi Selatan masing-masing sebesar 79,2+18,2 kg, 83,9+25,9 kg, 82,9+8,2 kg dan 64,4+12,5 kg (Thalib, et al., 2002); sedangkan Panjaitan et al,. (2003) memperoleh rataan bobot sapi Bali umur 6 bulan di Sumbawa sebesar 90+20 kg.
Rataan ukuran tubuh sapi Bali pada umur sapih pada lokasi penelitian ini lebih tinggi dari yang dilaporkan Handiwirawan dkk (1998) yang menyatakan lingkar dada dan panjang badan sapi Bali umur 60 – 90 hari sebesar 91,18+9,92 cm dan 71,73+8,11 cm.
Bobot lahir berpengaruh terhadap bobot sapih, semakin tinggi bobot lahir maka akan semakin tinggi pula bobot sapihnya, karena bobot sapih menentukan besarnya pertambahan bobot badan selanjutnya dan kemampuan adaptasi dengan lingkungan. Bobot sapih juga berpengaruh terhadap bobot badan selanjutnya, karena bobot sapih menentukan pertambahan bobot badan dan juga kemampuan adaptasi dengan lingkungan. Bobot sapih yang tinggi akan mempunyai pertambahan bobot badan yang tinggi, dimana korelasi bobot sapih dengan pertambahan bobot badan sesudah sapih sebesar 0,809+0,10 (Supriyantono, 2006). Bobot sapih memiliki hubungan yang erat dengan bobot lahir, keduanya berkorelasi positif sehingga bobot lahir dapat ditekankan dalam program seleksi tidak langsung, yaitu seleksi bobot sapih berdasar dari bobot lahir. Selain itu, bobot sapih dapat ditingkatakan dengan memeperbaiki kondisi lingkungan (manajemen perkandangan, peningkatan kualitas dan kuantitas pakan) karena dapat meningkatkan tingkat ekonomi peternak.
5.4 Bobot Dewasa
Banyak laporan yang telah mengemukakan hasil penelitian mengenai kemampuan produksi sapi Bali.Kemampuan produksi sapi Bali dapat dilihat dari beberapa indikator sifat-sifat produksi diantaranya adalah bobot dewasa, laju pertambahan bobot badan dewasa, sifatsifat karkas (persentase karkas dan kualitas karkas), dan sebagainya.Beberapa sifat produksi tersebut merupakan sifat penting/ekonomis yang dapat dipergunakan sebagai indikator seleksi.
Rataan dan simpangan baku bobot dewasa sapi Bali hasil penelitian seperti disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan Bobot Badan dan Ukuran Tubuh Sapi Bali Umur Dewasa.
Parameter | Jantan (7ekor) | Betina (67 ekor) | Rataan Total (74ekor) |
Bobot badan (kg) | 262±69.56 | 245±43.4 | 245.5±45.8 |
Lingkar dada (cm) | 152±16.63 | 148.6±9.7 | 148.7±10.4 |
Panjang badan (cm) | 123±7.58 | 121.5±9.0 | 121.5±8.8 |
Rataan bobot dewasa pada penelitian ini lebih tinggi dari penelitian Talib et al. (2003) menyatakan bahwa bobot badan sapi dewasa di NTT, NTB, Bali, Sulawesi Selatan sejumlah 221,5 ± 45,6 kg;241,9 ± 28,5 kg; 303,3 ± 4,9 kg dan 211,0 ± 18,4 kg. Pane (1991) bahwa sapi Bali betina dewasa mempunyai bobot badan antara 224-300 kg, sedangkan bobot badan sapi Bali betina terbaik pada pameran ternak tahun 1991 mencapai 300-489 kg (Hardjosubroto, 1994). Sementara itu, sapi Bali jantan dewasa mempunyai bobot antara 337-494 kg.Pane (1991), sedangkan bobot badan sapi Bali terbaik pada pameran ternak tahun 1991 mencapai 450-647kg (Hardjosubroto, 1994).
Perbedaan bobot badan hasil penelitian ini dengan penelitian terdahulu diduga disebabkan karena faktor lingkungan. Faktor lingkungantidak seluruhnya dapat diseragamkan karena polapemeliharaan ternak tiap tahun tidak sama sehingga secara tidaklangsung akan mempengaruhi tampilan bobot hidup.Pakan walaupun hampir sama dan selalu tersedia dalamjumlah yang cukup tetapi pada kondisi di kaki Gunung Rinjani hampir semua ternak hanya dikandangkan saja sehingga kondisiini turut mempengaruhi tampilan bobot hidup danukuran tubuh pada ternak yang diamati. Pengaruh faktorlingkungan terhadap individu satu dengan individu lainyang tidak sama akan menimbulkan variansilingkungan. Pengaruh variansi genetik suatu sifat padasuatu populasi ternak hanya dapat diketahui apabilavariansi lingkungan yang mempengaruhi sifat tersebutdapat ditiadakan.
Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi Bali memberikan respon positif terhadap perbaikan pakan dengan meningkatnya laju pertambahan bobot badan.Rataan laju pertambahan bobot badan (PBB) sapi Bali yang diberi rumput lapangan tanpa diberipakan tambahan adalah 175,75 g/ekor/hari,namun PBB harian meningkat jika diberi pakantambahan konsentrat 1,8% hingga mencapai313,88 g/ekor/hari (Amril, 1990). Soemarmi et al. (1985) melaporkan laju PBB sapi Balimencapai 690 dan 820 g/ekor/hari berturut-turutyang diberi pakan rumput dan pucuk tebuditambah konsentrat 1%. Pada penelitian ini para peternak tidak memberikan perlakuan khusus pada pemberian pakan, pakan diberikan dalam bentuk segar tampa perlakuan pengembangan teknologi yang ada.
5.5 Pertambahan Bobot Badan
Hasil rataan dan simpangan baku pertambahan bobot badan sapi Bali di lokasi penelitian yang disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Pertambahan Bobot Badan Sapi Bali.
Umur | PBBH |
Pasca sapih | 0,30+0,10 kg |
Dewasa (> 2 tahun) | 0,41+0,28 kg |
Tabel 8 menunjukkan bahwa rataan pertambahan berat badan sapi Bali dewasa di lokasi penelitian lebih tinggi dari yang dilaporkan Susilawati, dkk (2006), rataan PBB sapi Bali Pandaan adalah 0,41+0,18 kg kg/ekor/hari tetapi hampir sama dengan penelitian Pane (1991) yang melaporkan pertambahan bobot badan sapi Bali dengan pakan yang baik dapat mencapai 0,7 kg/hari (jantan dewasa) dan 0,6 kg/hari (betina dewasa). Bahar dan Rakhmat (2003) melaporkan bahwapertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi bali yangdigembalakan dengan pakan hijauan lokal pada musimkemarau berkisar antara 0,05-0,1 kg/ekor/hari, sedangkanpada musim hujan antara 0,2-0,4 kg/ekor/hari. Perbedaan pertambahan bobot badan ini disebabkan karena perbedaan jumlah dan mutu pakan, jenis kelamin, umur induk, tahun kelahiran, musim dan pertumbuhan ternak (genetik).
Tingginya pertambahan berat badan harian sapi Bali yang diberi tambahan pakan dedak padi daripada yang diberikan pakan hijauan dikarenakan dedak padi merupakan sumber energi. Sebagian peternak di lokasi penelitian memberikan dedak padi Untuk menambah gizi makanan ternak ruminansia. Dedak merupakan salah satu alternatif untuk itu dan ini lebih mudah dan murah diperoleh bila dibandingkan konsentrat lain. Proporsi pemakaian dedak dalam ransum ternak sebanya 2 kg per hari. Pemberian dedak padi dapat memberikan efisiensi penggunaan makanan lebih baik karena dedak mudah dicerna dan mengandung gizi yang tinggi. Adapun kandungan/komposisi gizi dari dedak halur adalah: protein kasar 15,9% lemak kasar 9,10% (Siregar, 1994).
Dedak padi merupakan bahan pakan konsentrat yang banyak digunakan oleh peternak sebagai sumber energi dan protein. Selain itu bahan pakan ternak ini banyak tersedia karena tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Dedak adalah hasil sisa penggilingan dari padi yang dapat digunakan sebagai pakan ternak, kaya akan protein, lemak, zat-zat mineral dan vitamin-vitamin dibandingkan dengan biji keseluruhan, akan tetapi banyak mengandung polikasarida struktural dalam jumlah yang banyak. Polisakarida struktural tersebut terdiri dari selulosa, hemiselulosa, selebiosa, lignin dan silica oleh karena itu bahan ini sangat sesuai untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia tetapi mempunyai nilai nutrisi yang berbeda–beda tergantung dari asal biji padinya, varietas cara penanaman padi dan cara pengolahan/mesin yang digunakan.
Hasil penelitian Chuzaemi, Hermanto, Soebarinoto dan Sudarwati (1997) mendapatkan kandungan bahan kering (BK) dan bahan organik (BO) pada bekatul adalah 92,49% dan 84,49 % BK. Sementara nilai kecernaan BK dan BO adalah sebesar 39,42 % dan 41,46%.
Laju pertumbuhan mula-mula terjadi sangat lambat, kemudian cepat selanjutnyaberangsur-angsur menurun atau melambat dan berhenti setelah mencapai dewasa. Pertumbuhan positif mempunyai kesamaandengan fase pertumbuhan cepat yang terjadi pada ternak sebelum dewasa kelamin danpertumbuhan negatif terjadi setelah pertumbuhan lambat (Suparno, 1992), sedangkan Nasich (2010) menyatakan bahwa pertambahan bobot badan terjadi cepat sekali pada fase-fase sebelum dewasa kelamin, setelah itu kecepatan pertumbuhan berkurang dan terus berkurang sampai akhirnya tetap setelah ternak dewasa.
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan suatu hal yang amat kompleks, dari sudah banyak penelitian menyatkan kesulitan untuk mengamati secara khusus dilapangan. Selanjutnya dinyatakan bahwa perubahan bobot badan dari seekor ternak biasanya diukur dari pertumbuhannya dan sering disajikan dalam bentuk karkas dan bentuk lainnya. Perubahan bobot hidup yang mengikuti bentuk huruf S (sigmoid) terutama disebabkan oleh persediaan pakan. Pertumbuhan sapi yang rendah bisa menjadi maksimum pada pertumbuhan selanjutnya kemudian berangsur-angsur menjadi linier pada pertumbuhan yang mendekati bobot dewasa.
5.6 Sifat Reproduksi
Reproduksi merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi efisiensi reproduksi dari suatu ternak betina. Efisiensi reproduksi dikatakan baik apabila seekor Induk sapi dapat menghasilkan satu pedet dalam satu tahun. Rataan penampilan reproduksi sapi Bali di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan Sifat Reproduksi Sapi Bali.
Parameter | Nilai Rata-rata |
Umur Kawin Pertama | 27,62+4,75 bulan |
Days Open | 3,94+0,56 bulan |
Service per Conception (S/C) | 1,17+0,38 kali |
Calving Interval | 13,47+0,76 bulan |
Conception Rate (CR) | 86,67 % |
5.6.1 Umur kawin Pertama
Tabel 9menunjukkan bahwa rataan umur pertama kawin sapi Bali di lokasi penelitian sebesar 27,62+4,75 bulan. Umur pertama kawin pada penelitian ini lebih tinggi dari hasil penelitian Liwa (1990) yang melaporkan bahwa umur pubertas sapi Bali adalah 631,5 hari. Dan Talib et al (2003) , umur pubertas sapi Bali di Sulawesi Selatan dan NTT adalah 30 bulan. Umur pubertas pada sapi dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, pakan dan lingkungan. Namun faktor yang sangat mempengaruhi umur pubertas sapi ialah bobot tubuh dan laju pertumbuhan (Nogueira, 2004).Menurut Kanuya et al. (1993) umur saat pubertas pada sapi Bos indicus yang hidup di daerah subtropis dan tropis bervariasi antara 16 sampai 40 bulan.
Menurut Wijono et al. (1998), umur pubertas lebih awal dapat terjadi pada perkembangan sapi dara yang dipelihara dengan baik atau memiliki kondisi badan yang baik. Adapun berat yang dicapai pada saat pubertas berkisar antara 250-400 kg. Umur pubertas sangat dipengaruhi oleh musim, suhu, makanan, dan genetik, oleh karena itu perkawinan awal sebaiknya dilakukan pada umur 14-22 bulan atau pada bobot badan 160-270 kg karena pubertas berkembang jauh sebelum dapat terjadi konsepsi, kebutingan, dan kelahiran normal. Sapi potong yang kurang baik pertumbuhanya baru dapat dikawinkan sesudah mencapai umur 18-24 bulan (Toelihere, 1997).
Kadarsih (2003) menyebutkan bahwa penampilan produksi dan reproduksi dipengaruhi oleh faktor lingkungan 60% dan 40% faktor genetik. Aspek lingkungan yang banyak dilaporkan adalah masalah pakan.Sistem manajemen pemeliharaan (intensif dan ekstensif) secara nyata juga mempengaruhi pencapaian bobot badan saat pubertas yang sudah barang tentu akan mempengaruhi pencapaian umur permulaan pubertas. Kondisi lingkungan pemeliharaan (habitat) lokasi penelitian diduga mempunyai pengaruh terhadap pencapaian umur permulaan pubertas, diantaranya adalahjenis pakan yang diberikan selama hidup hanya rumput yang secara kualitas kurang, dan iklim yang meliputi temperatur dan kelembaban yang relatif tinggi.
Pakan tidak hanya berhubungan dengan syarat pencapaian bobot badan saat pubertas tetapi juga mempengaruhi produksi dan pelepasan hormon. Menurut Darmono (2009) sapi yang hampir 100% pakannya berasal dari tanaman pakan ternak atau rumput alam akan mengalami defisiensi mineral yang dapat mengakibatkan daya reproduksi menurun. Hal ini ditunjukkan di lokasi penelitian yang sebagian besar peternak memberikan pakan hanya berupa hijauan saja.
5.6.2 Days Open
Nilai rata-rata days open di lokasi penelitian diperoleh nilai sebesar 3,94+0,56 bulan. Nilai days open ini lebih panjang dari penelitian Susilawati, Subagyo, Auliniam dan Kuswati (2006) yaitu 130,04+68,69 hari pada sapi Bali di Pandaan; Ardika (1995) sebesar 125,99+5,97 hari pada sapi Bali di Sulawesi Selatan dan Supriyantono (2006) melaporkan days open sapi Bali di Karang asem, Tabanan dan Pulukan masing-masing 106+25,01 hari, 130,24+38,31 hari dan 110+32,33 hari. Perbedaan masa kosong ini disebabkan oleh beberapa faktor, Menurut Susilawati dan Affandi (2004), perbedan days open dapat disebabkan oleh tingginya angka kegagalan perkawinan sehingga menyebabkan service per conceptionnya menjadi tinggi, tatalaksana perkawinan dan tujuan peternakan pada sapi Bali.
Gebre (2007) menyatakan salah satu faktor yang mempunyai pengaruh nyata terhadap days open adalah pakan. Hal ini disebabkan karena pakan memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan dan sirkulasi hormon, siklus reproduksi, pertumbuhan dan perkembangan fetus, pemulihan pasca partus serta performans reproduksi lainnya seperti service per conception. Selain itu lingkungan juga berpengaruh terhadap reproduksi sapi Bali.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan nilai lama waktu kosong (Days Open) di daerah penelitian mempunyai nilai yang lebih panjang dari nilai yang ideal sehingga akan menyebabkan lamanya Calving Interval yang akan merugikan bagi peternak. Hal ini sesuai dengan pendapat (Partodiharjo, 1990) yang menyatakan lama waktu kosong (Days Open) melebihi 90 hari adalah kurang efisien sebab akan mengakibatkan keuntungan yang diperoleh peternak menjadi rendah. DO merupakan indikator dari efisiensi reproduksi pada seekor ternak. DO yang panjang menunjukan reproduksi ternak tersebut kurang efisien dan akan merugikan peternak. Jainudeen and Hafez (2008) menyatakan bahwa days open dapat diperkecil dengan meningkatkan efisiensi deteksi estrus, sehingga sejumlah induk sapi dapat segera diinseminasi 55 – 85 hari setelah beranak. Menurut Susilawati dan Afandi (2004), days open terlalu panjang dapat disebabkan oleh tingginya angka kegagalan inseminasi buatan sehingga menyebabkan service per conceptionnya menjadi tinggi. Hasil DO yang panjang disebabkan karena kurangnya pengetahuan peternak pada tanda-tanda berahi yang baik, sehingga menyebabkan perkawinan pada sapi tersebut terlambat.
Days open sapi Bali yang panjang ini perbedaan pakan yang berpengaruh negatif terhadap kesuburan dan terjadinya kebuntingan berikutnya akan lebih panjang. Sapi-sapi yang dipelihara di daerah lokasi penelitian harus hidup dengan sisa hasil tanaman pangan (limbah/jerami dan daun pisang) yang mempunyai kandungan protein rendah (2-4%) dengan daya cerna yang rendah pula. Widjanarko (2010) menyatakan kandungan protein dalam pakan mempengaruhi calving interval, days open dan service per conception sapi PO dan Brahman cross di Kabupaten Nganjuk. Semakin berkurangnya kandungan protein dan BK dalam pakan akan menyebabkan days open akan semakin lama. Antara status kadar protein kurang dan cukup terjadi perbedaan waktu selama 50 - 60 hari.
Rendahnya kadar protein pada pakan di lokasi penelitian akan menurunkan produktivitas ternak. Faktor pakan berperan penting pada berbagai proses fisiologi yang terjadi dalam mencapai dewasa kelamin dan proses reproduksi. Kurangnya konsumsi pakan akan memperlambat sapi mencapai berahi sebaiknya pakan yang melimpah akan mempercepat berahi. Tillman et all (1986) menyatakan bahwa berahi pertama pasca beranak menjadi tertunda apabila energi dalam pakan pra dan pasca beranak rendah.
5.6.3 Service per Conception (S/C)
Service per conception (S/C) merupakan perhitungan jumlah pelayanan perkawinan yang dibutuhkan oleh seekor betina sampai terjadinya kebuntingan atau konsepsi. S/C dapat menggambaran tingkat kesuburan ternak di suatu peternakan. Nilai S/C yang rendah merupakan faktor ekonomis yang sangat menguntungkan dalam perkawinan alam maupun IB. Tabel 5 diperoleh nilai S/C pada sebesar 1,17+0,38. Nilai S/C ini hampir sama dengan yang dilaporkan Supriyantono (2006) pada sapi Bali di Karang asem, Tabanan dan Pulukan masing-masing 1.23+0,31, 1,02+0,09 dan 1,2+0,27. Hal ini menunjukkan performans reproduksi sapi Bali yang baik karena nilainya kurang dari standart yang disepakati yakni 1,5. Angka S/C ini dapat digunakan untuk menguji fertilitas pejantan dan betina. Dalama rangka seleksi sapi jantan dan betian berdasarkan fertilitasnya, nilai yang baik ini dapat digunakan sebagai pedoman tambahan.
Rendahnya nilai S/C di lokasi penelitian dikarenakan sebagian besar peternak menggunakan perkawinan alam dalam perkawinan ternak sehingga terjadinya cocepsi semakin tinggi. Selain itu rendahnya S/C menunjukkan bahwa manajemen reproduksi di lokasi penelitiaan sudah baik. Partodihardjo (1990) menyatakan nilai angka kawin per kebutingan yang baik 1,5 sampai 1,7. Makin rendah nilai S/C suatu peternakan maka semakin tinggi fertilitasnya, sebaliknya semakin tinggi nilai S/C akan semakin rendah tingkat fertilitasnya. Rendahnya S/C pada sapi Bali dilokasi penelitian ini menunjukkan bahwa sapi Bali memiliki fertilitas yang tinggi.
Service per conception yang rendah merupakan faktor ekonomis yang sangat menguntungkan dalam perkawinan sebab tingkat fertilitas pada ternak cukup tinggi yang memungkinkan tingkat kebuntingan pada ternak dapat terjadi ceat. Nilai S/C dapat menggambarkan tingkat kesuburan ternak-ternak di suatu peternakan. Nilai S/C yang rendah menunjukkan kesuburan yang tinggi dan merupakan faktor ekonomis yang sangat baik dalam perkawinan alam maupun IB. Bila S/C mempunyai nilai kecil pada sejumlah besar populasi ternak, dapat merupakan alat pengukur yang valid untuk satu betina individu.
5.6.4 Calving Interval
Calving interval adalah jangka waktu antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya atau sebelumnya. Calving interval ditentukan oleh lama kebuntingan dan lama days open (Jainudeen and Hafez, 2008). Rataan calving interval sapi Bali pada penelitian ini sebesar 13,47+0,76 bulan. Calving interval sapi Bali dari penelitian lebih tinggi dari penelitian Supriyantono (2006) yang melaporkan calving interval sapi Bali di Karang Asem, Tabanan dan Pulukan masing-masing 12,53+0,83 bulan; 13,34+1,28 bulan dan 13,33+1,86 bulan. Nilai CI pada penelitian ini belum ideal, karena jarak waktu beranak yang cukup panjang rata-rata lebih dari 12 bulan. Menurut pendapat Hadi dan Ilham (2002) bahwa jarak waktu beranak yang ideal adalah 12 bulan, yaitu 9 bulan bunting dan 3 bulan menyusui, hal ini ditambahkan oleh Ball and Peters (2007) bahwa efisiensi reproduksi dikatakan baik apabila seekor induk sapi dapat menghasilkan pedet dalam satu tahun.
Widjanarko (2010) melaporkan rendahnya kadar BK dalam pakan akan menyebabkan perbedaan waktu calving interval antara kategori ternak yang kekurangan dan cukup sebesar 260 – 270 hari. Pakan yang kurang akan membuat perkembangan alat reproduksi terhambat dan sekresi hormon reproduksi akan terganggu. Begitu juga sebaliknya pakan berlebih akan menyebabkan obesitas, pada sapi dara akan mengganggu perkembangan tumbuh sedangkan pada sapi dewasa akan mengganggu ovulasi. Kekurangan pakan dapat menyebabkan fungsi semua kelenjar dalam tubuh menurun diikuti terjadinya hipofungsi atau atropi ovarium pada hewan betina.
Panjangnya jarak beranak disebabkan beberapa faktor diantaranya panjangnya masa birahi setelah melahirkan dan manajemen peternak (Gunawan, Pamungkas dan Affandi, 2003). Faktor lain yang menyebabkan panjangnya jarak kelahiran adalah interval antara munculnya birahi pertama dengan terjadinya kebuntingan, kegagalan perkawinan, dan kematian embrio (Latief, Rahardja dan Yusuf, 2004). Pendapat lain adalah dari Jaiunudeen dan Hafez (2000) yang menyatakan bahwa (CI) dapat dipengaruhi oleh lama kebuntingan dan waktu antara melahirkan sampai bunting kembali (DO).
5.6.5 Conception Rate
Conception Rate atau angka konsepsi merupakan persentase ternak betina yang bunting pada perkawinan pertama. Nilai CR pada sapi Bali di lokasi penelitian sebesar 86,67 persen. Angka CR sapi Bali tersebut masih lebih tinggi daripada penelitian Susilawati dkk., (2006) sebesar 57,5 persen pada perkawinan alam dan 37,5% pada perkawinan IB pada sapi Bali Pandaan, dan CR sapi Bali yang juga merupakan sapi lokal asli Indonesia yaitu sebesar 68,75 % (Kune, 2007). Hunter (1995) menyatakan angka konsepsi yang ideal untuk sapi berkisar antara 60-73 persen. CR akan lebih rendah nilainya ketika sapi-sapi dikawinkan lebih awal pada interval 60 hari setelah melahirkan dari pada interval berikutnya (Jainudeen dan Hafez, 2008).
Faktor pakan berpengaruh pada tinggi rendahnya CR. Daerah dataran tinggi memiliki tanah yang lebih subur dengan kandungan unsur hara yang lebih lengkap dengan sistem usaha pertanian secara intensif. Pemeliharaan ternak di lokasi penelitian lebih baik karena pakan hijauan tersedia melimpah dengan kualitas lebih baik dan pemberian pakan konsentrat berupa dedak padi. Secara umum daerah dataran tinggi berpengaruh lebih baik terhadap kesuburan ternak. Tingginya kualitas dan kuantitas pakan cenderung berpengaruh baik terhadap kesuburan ternak. Jaenuden dan Hafez (2008) menyatakan kesuburan ternak ditentukan oleh aktifitas ovarium. Pemberian pakan yang bermutu baik dan dalam jumlah yang cukup selama bunting sampai pasca bernak akan mempengaruhi kesuburan ternak. Selain itu juga dikarenakan sapi Bali merupakan sapi asli Indonesia yang mempunyai fertilitas yang tinggi.
Touchberry (2004) mengemukakan bahwa untuk mempertahankan agar calving interval tetap 365 hari, maka nilai CR minimal sebesar 60% dan rata-rata DO sebesar 90 hari. Oleh sebab itu Jainudeen dan Hafez (2008) menyarankan agar sapi dapat menerima tambahan nutrisi pasca melahirkan sehingga induk yang baru melahirkan dapat segera estrus kembali diikuti adanya fertilitas yang baik pada musim kawin.
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh kesimpulan
1. Rataan bobot lahir dan sapih pada sapi Bali sebesar 16,84+1,19 kg dan 71,8+5,0 kg;
2. Rataan lingkar dada pada umur lahir dan sapih sapi Bali masing-masing sebesar 61,0+1,9 cm dan 94,4+2,9 cm;
3. Rataan panjang badan pada umur lahir dan sapi sapi Bali masing-masing sebesar 49,9+1,73 cm dan 88,76+1,20 cm;
4. Rataan umur kawin pertama kali sapi Bali dilokasi penelitian sebesar 27,62+4,75 bulan; days open sebesar 3,94+0,56 bulan; service per conception 1,17+0,38 kali; calving interval selama 13,47+0,76 bulan dan conception rate sebesar 86,67 persen.
6.2 Saran
Untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi Bali di kaki gunung Rinjani disarankan peternak dapat memanfaatkan teknologiproduksi dan reproduksi yang telah tersedia tetapi aplikasinya perlu penyeseuaian dengan kondisi setempat.
DAFTAR PUSTAKA
Alim, A.F., dan T. Hikada, 2002. Buku Petunjuk Teknologi Sapi Perah di Indonesia; Pakan dan Tatalaksana Sapi Perah. Departemen Pertanian Japan Internasional. Agency-Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. Bandung.
Anonimus, 2000. Teori dan Praktek Inventarisasi dan Pemetaan Flora – Fauna Kawasan Hutan Gunung Rinjani Lombok – NTB. Hasil Kerjasama Dinas Kehutanan NTB, WWF Nusra dan BTNGR. Mataram.
Anonimus, 2006a. Laporan Akhir. Profil Produksi, Reproduksi dan Produktivitas Ternak Sapi Bali di Nusa Tenggara Barat. Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat Dengan Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Mataram.
Anonimus, 2010. Nusa tenggara Barat Dalam Angka. Badan Pusat statistic Nusa Tenggara Barat. Mataram.
Anonimus, 2011. Hasil sensus ternak sapi 2011 populasi sapi potong di NTB, Badan Pusat statistic Nusa Tenggara Barat, Mataram.
Amano, T., M. Katsumata., S. Suzuk.i, K. Nozawa., Y. Kawamoto., T. Namikawa., H.Martojo., I.K. Abdulgani., and H. Nadjib, 1981. Morphological and genetical survey of Water Buffaloes in Indonesia. In: The Origin and Philogeny ofIndonesian Native Livestock. Investigation on The Cattle, Fowl, and TheirWild Forms. I: 31-52.
Arman, Ch, I. P., Sudrana, M. Ashari, I.B. Dania, H. Poerwoto, 2006. Profil Produksi, Produksi dan Produktivitas Ternak Sapi Bali di Nusa Tenggara Barat, Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Mataram.
Aryati, 2008. Pengukuran dan Pencatatan Kemampuan Reproduksi dan Produksi. Dinas Peternakan. Sumatra Barat http://www.disnaksumbar.org/content/view/200/84/[16 maret 2008].
Ashari, M. 1991. Studi Bobot Lahir Sapi Bali Hasil Insminasi Buatan di Kabupaten Lombok Timur. Laporan Penelitian. Fapet Unram. Mataram.
Ashari, M., 2005. Pengaruh Beberapa Tingkat HQFS (haigh Feed Quality Suplemen) Terhadap Kinerja Produksi Sapi Bali yang Digemukkan Secara Feedlooting. Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Mataram.
Ashari, M., I.B Dania, L. W. Pribadi, Rr. A. Suhardiani, dan R. Andriati, 2006.Ilmu Produksi Ternak Potong dan Kerja. Bahan Ajar. Laboratorium Ternak Potong dan Kerja. Fakultas Peternakan UNRAM. Mataram.
Atabany, A., 2001. Study Kasus Produktivitas Kambing Peranakan Ettawah dan Kambing Saanen pada Peternakan Kambing Perah Barokah dan PT. Taurus Dairy Farm. Tesis. Sekolah Pascasarjana Insitut Pertanian Bogor. Bogor.
Ax, R.L., M.R. Dally., B.A. Didion., K.W.Lenz., C.C. Love., D.D. Varner., B. Hafez and M.E. Bellin., 2008. Artificial Insemination. Reproduction in Farm Animals. 7th ed by B. Hafez and E.S.E. Hafez Blackwell Publishing. Oxford : 376–389.
Ball, P.J.H., A.R. Peters., 2007. Reproduction in Catlle. 3th Edition. Blackwell Publishing Ltd, Garsington Road, Oxford, UK.
Bandini, Y., 1999. Sapi Bali ; Cocok Untuk Ternak Potong dan Kerja, Rajin Beternak dan Mudah Memeliharanya. Penebar Swadaya. Jakarta.
Basuki, P., dan Harmadji, 1991. Performans Pertumbuhan Anak Kambing Ettawa Lepas Sapih. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Bearden, J.H and Fuquay J., 1984. Applied Animal Reproduction. 2nd ed. Reston Publishing Company, Inc. Virginia.
Black, J. L., 1984 Manipulation of Body Composition Trought nutrition, Proc. Aus. Soc. Anim. Prod. 10:211-218.
Blakely, J. dan H. Bade., 1992. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat. Terjemahan: B. Srigandono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Bourdon, R. M. 1997. Understanding Animal Breeding. Prentice-Hall, Inc. New Jersey.
Braford, G. E., 1993. Small Ruminant Breeding Strategies For Indonesia. Advance In Ruminant Resarch In Indonesia. Procedings of a Workshop at The Research Institute For Animal Production. Ciawi. Bogor.
Chuzaemi, S., Hermanto, Soebarinoto dan Sudarwati, H., 1997. Evaluasi Protein Pakan Ruminan melalui Pendekatan Sintesis Protein Mikrobal : Evaluasi Kandungan RDP dan UDP pada beberapa Jenis Hijauan Segar, Limbah Pertanian dan Konsentrat. Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Hayati 9:77-90.
Darmono, 2009. Menyiasati Peran Suplemen Logam dan Mineral Terhadap Kesehatan Ternak Menuju Swasembada Daging. Orasi Pengukuhan Profesor Riset. Jakarta: Badan Penellitian dan Pengembangan Pertanian.
Direkorat Jenderal Peternakan, 2007. Petunjuk Teknis Uji Performans Sapi Potong Nasional. Kementerian Pertanian. Jakarta.
Direktorat Bina Hutan Kemasyarakatan, Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Dephut RI bekerjasama dengan The Ford Foundation.2004. Jakarta: Belajar dari Praktisi Lokal.
Direktorat Jenderal Peternakan., 2010. Blue Print Swasembada Daging 2014. Kementerian Pertanian. Jakarta.
Dradjat, A. S., 2000. Evaluasi pelaksanaan Insminasi Buatan Yang Telah dilakukan Selama Seperempat Abad Pada Sapi Bali di NTB. Majalah Ilmiah BOVINE 9:20:21-26.
Dwipa, I.B.G., B.J. Sarwono, H. Poerwoto, T. Hijaz dan M. Wahyudi, 1989. Sifat Produksi Sapi Hasil Kawin Suntik di Kabupaten Lombok Barat. Laporan Penelitian. Fapet Unram. Mataram.
Ensminger, E.M. and G.C. Olentine (1980).Feeds & Nutrition – Complete.California : TheEnsminger Publishing Company.
Gebre, Y.M., 2007. Reproductive traits in Ethiopian male goats. Doctoral thesis Swedish University of Agricultural Sciences. Uppsala.
Gufran, 1995. Telaah Ragam dan Produksi, Porsi Pemberian dan Konsumsi, Nilai Nutrien Pakan Sapi Bali Jantan Kereman Kaitannya Dengan Pertumbuhan. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Mataram.
Gunawan, P dan Affandi L., 2003. Sapi Bali. Kanisius. Jogjakarta.
Gunawan, P.D., dan L.S.Affandy, 1998. Sapi Bali ; Potensi, Produktivitas dan Nilai Ekonomi. Kanisius. Yogyakarta.
Hafez, B., and E.S.E Hafez1., 2008. Fertilization and Cleavage. Reproduction in Farm Animals. 7th ed by B. Hafez and E.S.E. Hafez Blackwell Publishing. Oxford : 110–125.
Hafez, B., and E.S.E Hafez2., 2008. Reproductive Cycles. Reproduction in Farm Animals. 7th ed by B. Hafez and E.S.E. Hafez Blackwell Publishing. Oxford : 55–67.
Hairiah, K., Sarjono, Agung M, Sambas S. 2003. Pengantar Agroforestry. Word Agroforestry Centre (ICRAFT) Southeast Asia. Web Site: http/www.worldagroforestrycenter.org/sea atau http: www.icraft.cigar.org/sea.Handoko (1998).
Hakim, L., 1999. Pemuliaan Ternak: Upaya untuk Meningkatkan Performans Produksi. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Handiwirawan, E., E.D. Setiawan, I.W. Mathius, Santoso, dan A. Sudibyo.1998. Ukuran Tubuh anak sapi bali dan persilangannya di Nusa Tenggara Barat. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner.Bogor, 1-2 Desember 1998.
Hardjopranjoto, H.S., 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya.
Hardjosubroto, W., 1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Gramedia. Jakarta.
Haresigen, W. 1983. Sheep Production. First Published Butterths. London.
Harjosubroto, W., 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasmara Indonesia. Jakarta.
Harmadji,1992. Prospek Pengembangan Sapi Bali di Indonesia. Seminar Nasional Sapi Bali. Fakultas Peternakan Universitas Udayana Bali.
Hidayati, R.D., C.C.H,.Tambunan, A.,Nugraha, I.,Amunudin, 2006. Pemberantasan Illegal Logging dan Penyelundupan Kayu. Tangerang-Banten: Wana Aksara.
Ihsan, M.N., 2010. Pengembangan Kambing Dengan Inseminasi Buatan (Kendala dan Solusinya). Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Ihsan, M.N., 1997. Ilmu Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang.
Indah, F., Penampilan Rerodduksi Sapi Betina Brahman Cross Ex Impor dan Peranakan Ongole di Kabupaten Probolinggo. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Jainudeen, M.R., H. Wahid, and E.S.E. Hafez., 2008. Sheep and Goats. Reproduction in Farm Animals. 7th ed by B. Hafez and E.S.E. Hafez Blackwell Publishing. Oxford: 172-181.
Karnaen, 2004. Kajian Produktivitas Sapi Madura. Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran. Bandung.
Kementerian Pertanian, 2009. Potensi Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.
Kostaman, T., Keman, S., Sunardi dan I.K. Sutama., 2003. Penampilan Reproduksi Kambing Perankan Ettawah yang Dikawinkan dengan Kambing Boer jantan dan Pertumbuhan Anaknya sampai Sapih. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Lasley, J,F,, 1987,Genetics of Livestock Improvement, Prentice Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey.
Latief, A., D.P.Rahardja, dan M.Yusuf, , 2004. Meningkatkan Efisiensi Reproduksi Sapi Potong melalui Percepatan Munculnya Birahi PostPartum. Jurusan Produksi Ternak. Universitas Hasanudin.
Latief, A., Rahardja, D.P., dan Yusuf, M., 2004. Meningkatkan Efisiensi Reproduksi Sapi Potong melalui Percepatan Munculnya Estrus PostPartum.Jurusan Poduksi Ternak. Universitas Hasanudin.
Laurence, T. L. J., 1980. Growth in Animal. Reedwood Burn Limited, Trwbridge and Eshe, Butterword. London.
Martojo, H., 2003. Indigenous Balli Cattle: The Best Suited Cattle Breed for Sustainable Small Farm in Indonesia. Laboratory of Animal Breeding and Genetics, Faculty of Animal Science. Bogor Agricultural University. Indonesia.
Martojo, 1988. Kebijaksanaan Pemuliaan Ternak di Indonesia. Lampiran I, Cuplikan dari working GroupbPemikiran Kerangka Kebijaksanaan Produksi Peternakan. Peper B-3, Direktorat Bina Program Ditjenak.
Martojo, H., 1992. Peningkatan Mutu Genetik Ternak. Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Insititu Pertanian Bogor. Bogor.
Mastika, I. M., 2003. Feeding Strategies to Improve The Production Performance and Meat Quality of Bali Cattle (Bos Sondaicus). Australian Centre For International Agriculture Research. Camberra. 110:10-13.
Maylinda, S., 2010. Pengantar Pemuliaan Ternak. Universitas Brawijaya Press. Malang.
Nachida, M., 1998.Bobot Badan Sapi Bali Pada Lahan Basah dan Lahan Kering di Kabupate Lombok Barat. Tesis Program Studi Ilmu Ternak, Program Pascasarjana, Universitas Brawijaya. Malang.
Nasich, M., 2010. Analisis Fenotip dan Genotip kambing Hasil Persilangan antara Pejantan Kambing Boer dengan Induk Kambing Lokal. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya. Malang.
Nitt, Mc J.I. (1974). Livestock Husbandry Techniques.Suffolk : The Caucher Press.
Pane, I., 1991. Produktivitas dan Breeding Sapi Bali. Proceeding Seminar Nasional Sapi Bali. Ujung Pandang, 2-3 September 1991. Ujung Pandang. Fakultas Peternakan Universiatas Hasanudin. Uujung Pang Pandang.
Panjaitan, T., G Fordyce and D. Poppi., 2003. Bali Cattle Performance in the Dry Tropics of Sumbawa. JITV 8(3): 183-188.
Partodihardjo, S., 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Sumber Widya. Jakarta.
Quakenbush, G., 1999. Herd Health. Biosecurity maint.
Sariubang, M., D. Pasambe, dan Chalidjah. 1998. Pengaruh kawin silang terhadap performans hasil turunan pertama (F1) pada sapi Bali di Sulawesi Selatan. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 1-2 Desember 1998.
Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Jakarta: Penebar Swadaya.
Soeparno, 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press. Bolaksumur. Yogyakarta.
Sosroamidjojo, S. dan Soeradji, 1980. Peternakan Umum. Cetakan ke 3. Yasaguna. Jakarta.
Sumantri, C., Einstiana, A., Salamena, J.F., Inounu, I., 2007. Keragaan dan hubungan phylogenik antar domba lokal di Indonesia melalui pendekatan analisis morfologi.JITV 12(1):42-54
Susilawati, T. dan L.Affandi., 2004. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produktivitas Sapi Potong melalui Teknologi Reproduksi. Loka Penelitian Sapi Potong. Grati. Pasuruan.
Susilawati, T dan Affandi, L., 2004. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produktivitas Sapi Potong melalui Teknologi Reproduksi. Loka Penelitian Sapi Potong. Grati. Pasuruan.
Susilawati, T., 2002. Optimalisasi Inseminasi Buatan Dengan Spermatozoa Beku Hasil Sexing Pada Sapi Untuk Mendapatkan Anak Dengan Jenis Kelamin Sesuai Harapan. Laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Susilawati, T., S.Ifar., Aulaniam dan Kuswati., 2006. Potensi Produksi Plasma Nutfah Sapi Jawa, Bali-Pandaan dan Sapi Madura. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur dan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Sutama, I.K., 2004. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produktivitas kambing Melalui Inovasi Teknologi Reproduksi. Lokakarya Nasional Kambing Potong. Balai Penelitian Ternak, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Talib, C., K. Entwistle., A. Siregar, S. Budiarti_Turner and D. Lindsay., 2002. Survey of Population and Production Dynamics of Bali Cattle and Existing Breeding Program in Indonesia. Working Paper. Bali Cattle Workshop bali, 4-7 Febuary 2002.
Tanari, M., 2001. Usaha Pengembangan Sapi Bali Sebagai Ternak Lokal Dalam Menunjang Pemenuhan Kebutuhan Protein Asal Hewani di Indonesia. Makalah Filsafat Sains. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Toelihere, M.R., 1997. Inseminasi Buatan pada Ternak. Edisi ke-2. Angkasa, Bandung.
Tomaszewka., I. Made Mastika., A Djojonegoro., S. Gardiner dan T. Wiradarya., 1993. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Diterjemahkan I.M. Mastika. Sebelas Maret University Press. Surakarta.
Utomo, B.N., 2011. Keragaman Fenotipik Dan Genetik, Profil Reproduksi Serta Strategi Pelestarian Dan Pengembangan Sapi Katingan Di Kalimantan Tengah. Disertasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Utomo, B., Herawati, T., dan Prawirodigdo., 2005. Produktivitas Induk Dalam Usaha Ternak Kambing pada Kondisi Pedesaan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Ungaran : 660-665.William, I. H., 1982. Growth and Energy. In. Davies. L. H. (ed). Nutrition an Growth Manual. AUIDP, Cambera.
Warwick, E.J., J.M. Astuti dan W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wijanarko, A.W., 2010. Kajian Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Penampilan Reproduksi Sapi Brahman Cross di Kabupaten Ngawi. Disertasi. Program Pascasarjana Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.
Williamson, G. dan W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis, Edisi ketiga, diterjemahkan oleh SGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Wilson, D.E., D.M.Reeder, 2005. Mammal Species of the World : a Taxonomic andGeoghrapic Reference. John Hopkins University.Pane, I., 1993. Pemuliaan Ternak Pada Sapi. Gramedia. Jakarta.
Wiyono, D. B., dan Aryogi. 2007. Petunjuk Teknis Sistem Perbibitan Sapi Potong. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Wulandari, C.,et al. 2006. Prinsip-prinsip Penerapan Community Empowerment Dalam Agenda Konservasi WWF-Indonesia. Jakarta: WWF-Indonesia.
WWF Program Nusa Tenggara, 2002b. Economic Change, Poverty and Environment [Research Report]. Mataram: WWF-Indonesia.
Yumichad, Y. dan N. Ilham, 2004. Tinjauan Kebijakan Pengembangan Agrbisnis Sapi Potong. Buletin Analisis Kebjakan Pertanian. Puslibangsosek. Badan Litbang Pertanian. Bogor.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar